Antara Gengsi dan Kenyamanan dalam Hajatan
Hari ini, Senin 13 April 2026, aku sedikit terkejut. Ternyata masih ada sebagian masyarakat yang benar-benar memahami arti kenyamanan bagi orang lain.
Sebelumnya, aku pernah menyindir cukup keras soal hajatan1, terutama penggunaan sound system yang terlalu brutal dan mengganggu2.
Apa yang Terjadi?
Jujur, aku tidak terlalu peduli soal standar sosial. Yang lebih aku pedulikan adalah bagaimana seseorang bisa menghormati dirinya sendiri dan orang lain.
Contohnya hajatan hari ini.
Biasanya, aku sering dipusingkan oleh suara sound system yang sampai membuat plafon dan kaca bergetar. Tapi kali ini berbeda. Musiknya pelan, tenang, dan justru nyaman. Bahkan saat sedang koding, rasanya seperti dapat “musik gratis” yang menenangkan.
Hal kedua yang menarik: tidak menerima sumbangan 😊
Entah benar atau tidak, aku tidak terlalu mempermasalahkan. Tapi jujur saja, sering kali aku merasa stres melihat budaya di mana orang merasa wajib menyumbang. Ketika ada yang secara terbuka mengatakan tidak menerima sumbangan, itu memberi rasa lega—setidaknya bagi sebagian orang.
Cerita dan Bisik-Bisik Tetangga
Namanya juga hidup di lingkungan, tidak bisa lepas dari yang namanya bisik-bisik tetangga 😅
“Katanya si A, itu pakai sound system murah, makanya nggak kencang suaranya.”
“Mungkin nggak mampu?”
Why? 🤔
Jujur, aku tidak berpikir seperti si A. Bagiku, kalau yang sederhana sudah cukup, kenapa harus berlebihan?3
Hajatan itu tidak harus mewah. Yang penting cukup, nyaman, dan tidak mengganggu—atau bahkan, tidak perlu hajatan besar sama sekali 😊
Soal “sound system murah”, justru ini menarik. Kalau memang benar yang lebih murah itu:
- lebih tenang
- lebih tertib
- lebih tidak mengganggu
Lalu pertanyaannya sederhana: kenapa harus yang mahal?
Pada akhirnya, menikmati musik itu soal kenyamanan, bukan soal volume.
Kalau terlalu keras sampai kaca rumah bergetar, yang muncul bukan kenikmatan—tapi rasa tidak nyaman, bahkan emosi 😅
Apakah Aku Peduli?
Tidak sepenuhnya.
Tapi aku sangat menghargai orang-orang seperti ini. Mereka memberi contoh bahwa:
- tidak perlu heboh untuk terlihat “wah”
- tetap bisa menghormati lingkungan
- tetap bisa patuh pada aturan
Dan yang paling penting: tidak membuat orang lain terganggu.
Masalah Utama yang Aku Temui
Masalah utamanya adalah standar sosial.
Contoh nyatanya ya bisik-bisik tadi. Memang tidak disampaikan langsung ke orangnya, tapi efeknya nyata.
Orang lain bisa jadi berpikir:
“Aku harus seperti itu, biar nggak jadi bahan omongan.”
Dan itu sering terjadi 🙂↕️
Kesimpulan
Kita hidup bermasyarakat bukan untuk menunjukkan siapa kita, tapi untuk memberi dampak yang baik bagi orang lain.
Kalau belum bisa memberi banyak, setidaknya:
- hormati orang lain
- jaga kenyamanan bersama
- jangan egois hanya karena gengsi
Karena pada akhirnya, yang diingat bukan seberapa “wah” acaranya—tapi seberapa nyaman suasananya.
Konten Menarik Lainnya
- Fomo Hajatan Pernikahan di Desaku
- Kebisingan Izin dan Etika Hidup Bermasyarakat
- Kebutuhan vs Keinginan
- Tentang Memahami Orang Lain (dan Batasannya)