CahBagus
Toggle Menu

Boomerang Kisah Sayang

Bagaimana mungkin kita, yang dilahirkan dan dibesarkan dengan cinta, kasih sayang, serta perhatian yang bahkan melebihi apa yang orang tua berikan untuk diri mereka sendiri, justru bisa menjadi boomerang bagi mereka di kemudian hari?

Disclaimer

Tulisan ini hanyalah pengamatan dan pendapat pribadiku tentang cara kita memanusiakan orang lain, terutama orang terdekat.

Masalah yang Aku Temui

Aku mengamati perilaku unik dari beberapa individu: mereka memperlakukan orang yang membesarkan mereka seolah-olah orang itu yang membuat kehidupan mereka tidak layak atau tak sesuai keinginan. Alhasil, orang tua selalu salah di mata sang anak. Perilaku yang kemudian tidak lagi sejalan dengan norma.

Anehnya, dalam pengamatanku, anak semacam ini sebenarnya memiliki hampir semua hal di masa kecilnya—bukan hanya kasih sayang dan perhatian, melainkan juga dari sisi finansial. Di sinilah letak keunikannya.

Beberapa poin utama yang mencolok:

  1. Pergeseran makna dalam memahami arti berbakti dan durhaka.
  2. Sering mengeluh dan menyalahkan orang lain.
  3. Kedewasaan, kemandirian, dan tanggung jawab.
  4. Tidak sedikit pun menghargai pengorbanan.
  5. Perilaku dan etika yang tidak sesuai.

Soal Tanggung Jawab Anak dan Orang Tua

Sebelum membahas poin utama, aku ingin memberi tanggapan tentang dua hal berikut:

Anak tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang tuanya, tetapi sebaliknya; orang tua wajib bertanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya.

Begitu pula soal ini:

Memang seorang anak tidak memiliki tanggung jawab atas kehidupan orang tuanya. Bahkan, jika kebutuhan tidak terpenuhi, anak pun bisa menuntut orang tuanya.

Pada dasarnya, lahir di dunia ini belum tentu merupakan keinginan si anak—itu adalah kehendak orang tuanya.

Kalau orang tua belum siap memiliki anak, sebaiknya jangan dulu, daripada menyusahkan kehidupan orang lain atau kelak menuntut anak membahagiakan mereka.

Meski begitu, aku tidak sepenuhnya setuju karena kehidupan setiap individu itu kompleks dan sangat rumit. Misalnya, bagaimana jika itu korban pemerkosaan? Atau pasangan yang sudah mengikuti program KB tetapi gagal? Atau faktor hamil di usia muda karena ketidaktahuan atau sekadar coba-coba berhubungan seksual—yang biasanya terjadi di fase pubertas? Masih banyak faktor lain yang tak bisa disederhanakan.

Menurutku, secara umum kita dilahirkan bukan untuk menuntut siapa pun, dalam keadaan apa pun.

Kalaupun seorang anak ditelantarkan—sungguh tidak bertanggung jawab orang tua seperti itu—anak berhak menuntut. Tetapi harus bisa dibedakan: jika orang tua sudah berjuang mati-matian demi anaknya, namun kondisi hidup begitu berat hingga kebutuhan anak tak terpenuhi, mungkin menjadi anak yang mampu berpikir lebih manusiawi adalah jalan yang lebih baik daripada menuntut.

Paling tidak, kita bisa membedakan antara usaha yang gagal dan tidak berusaha sama sekali.

Hanya Mengeluh Tanpa Pernah Berusaha

Fenomena yang cukup ironis adalah orang yang gemar curhat, mengeluhkan hidupnya, menyalahkan orang tua, dan saat diberi saran selalu membantah dengan segudang alasan.

Tidak masalah jika hanya sekali atau dua kali; aku masih bisa memahami perasaannya. Namun, kalau berulang kali dengan cerita yang sama, tanpa perubahan atau tindakan nyata, rasanya aku tidak bisa lagi membenarkan orang tersebut.

Uniknya, ia sudah dewasa—bukan anak kecil atau remaja lagi. Seharusnya pola pikirnya bisa lebih dewasa dan tidak lagi bergantung kepada orang tua. Kalau seperti ini terus, hidup akan sulit dijalani dan ia akan selalu dalam ketergantungan.

Buruknya Etika dan Perilaku Terhadap Orang Tua

Membahas poin ini, etika dan moral seharusnya tidak hanya ditujukan untuk orang tua, melainkan untuk semua orang.

Lucunya seperti ini: Kepada orang lain ia sangat baik dan terlihat sopan. Namun, kepada orang terdekat—terutama orang tuanya—perilakunya sangat berbeda. Maaf, sering kali ia memperlakukan orang tua tidak selayaknya manusia.

Tentu kita harus memvalidasi jika ada trauma masa lalu, namun menjadikannya alasan untuk terus-menerus bertindak semena-mena saat sudah dewasa tentu bukan jalan keluar yang bijak.

Baca Konten Serupa:

Penutup dan Kesimpulan

Jujur, aku tidak bermaksud membenarkan atau menyalahkan secara mutlak. Hanya saja, kita perlu menyadari pentingnya memanusiakan orang lain, tanpa memandang usia, status, ras, suku, maupun agama. Tidak ada ruginya sama sekali; bahkan, menurutku sikap itulah yang akan membuat kita terlihat lebih dewasa dan berwibawa.

Dan untuk seorang anak kepada orang tua nya:

Tidak perlu merasa harus memberikan kebahagiaan. tetapi cukup dengan menghormati mereka selayaknya manusia lain.