Kebisingan, Onar, dan Ketidakpedulian: Keluh Kesah Lingkunganku
Kebiasaan yang merugikan seringkali diabaikan, bahkan oleh mereka yang terdampak sekalipun—dianggap wajar. Padahal dari kelaziman itulah perlahan tumbuh perilaku salah yang tak pernah terlihat salah.
Keluh Kesah tentang Kehidupan di Lingkunganku
Hidup di lingkungan yang sehat adalah impian. Sehat dari sisi gotong royong, etika bermasyarakat yang baik, serta perilaku yang tidak menyimpang, melanggar hukum, ataupun norma sosial.
Mungkin bukan hanya aku yang merasakan; banyak orang pasti menginginkan hal serupa.
Permasalahan yang Aku Rasakan
Sebenarnya banyak hal yang ingin ku ceritakan, tapi aku akan ambil inti masalah yang paling meresahkan.
- Kegiatan yang sering dilakukan di malam atau tengah malam.
- Sering membuat onar dan mabuk.
- Berbicara keras yang mengganggu waktu istirahat/tidur.
1. Kegiatan yang Tidak Semestinya
Entah harus mulai dari mana. Satu kejadian yang membuatku sangat muak: Pada malam Idul Fitri tahun 2026, sekitar pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba terdengar suara petasan sangat keras berulang kali.
Aku cukup memahami bahwa malam itu spesial bagi umat Muslim. Tapi satu pertanyaan: haruskah di tengah malam seperti itu? Kalau dinyalakan sejak sore hingga maksimal jam 9–10 malam, mungkin banyak orang masih memaklumi karena belum pada tidur.
Ironisnya, ketika aku keluar menegur, mereka seakan tak merasa bersalah sama sekali. Dan yang paling lucu (menyedihkan), mereka malah memanggil semua temannya—seperti geng yang beraninya hanya main keroyokan. Ya, siapa yang tidak takut? Aku sendirian, mereka berkelompok.
Pagi harinya, aku mendengar beberapa tetangga juga mengeluh. Tapi masalahnya, kenapa mereka hanya diam? Padahal jika kita berpikir lebih dalam, setiap manusia berhak mendapatkan ketenangan pada kondisi tertentu, terutama malam hari. Aku tidak begitu heran, karena hal-hal seperti ini di lingkunganku memang sering diabaikan.
Itu baru satu kejadian. Masih banyak kejadian serupa lainnya.
2. Sering Membuat Onar
Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan jika setiap malam mereka mau mabuk-mabukan, selama tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak melanggar hukum.
Pernah kulihat perkelahian, dan seringkali terjadi di acara hajatan. Suatu ketika, di sebuah hajatan, mereka merusak properti seperti kursi, dan ada juga yang hampir saling membunuh. Namun kembali lagi, masyarakat sepertinya enggan ikut campur. Padahal secara hukum kita bisa membuat laporan ke polisi untuk ditindaklanjuti, agar ada efek jera.
3. Berbicara Keras yang Mengganggu di Malam Hari
Tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Yang ingin aku sorot:
- Apa salahnya berbicara sewajarnya? Jelas lebih tenang dan tidak mengganggu sekitar.
- Sudah dewasa, bukan remaja. Ini yang paling ironis. Pelaku rata-rata sudah punya keluarga dan anak, bahkan tuan rumahnya punya dua anak—satu sudah dewasa, satu masih kecil. Tapi pola pikirnya aneh, berbeda dengan manusia normal pada umumnya.
- Haruskah setiap malam? Hampir setiap malam hal seperti ini terjadi. Padahal kalau seminggu sekali pada malam Minggu saja, masih bisa diwajarkan mengingat hari itu memang cocok untuk berkumpul.
Mungkin itu poin terakhir yang ingin kutulis. Tiga kasus di atas saja sudah cukup meresahkan dan merepotkan. Masih ada kasus lain yang tidak kusebut karena akan terlalu panjang.
Postingan Serupa, Keluh Kesah di Lingkungan:
- Fomo Hajatan Pernikahan di Desaku
- Kebisingan, Izin, dan Etika Hidup Bermasyarakat
- Gengsi vs Kenyamanan Hajatan: Refleksi Sosial
Kesalahan yang Terus Dibiarkan & Yang Aku Takutkan
Aku sadar, satu orang saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Semakin dibiarkan, semakin bebas mereka berbuat. Kesalahan, etika, norma sosial—semua sudah tidak dianggap relevan lagi.
Yang aku takutkan sebenarnya adalah generasi baru. Lingkungan seharusnya menjadi tempat yang sehat dan aman, malah disuguhi hal-hal menyimpang seperti ini. Bukan hanya orang dewasa dan remaja, tapi anak-anak pun ikut terpapar.
Jika kita tidak memutus rantai ini, tak heran jika ke depannya akan semakin banyak orang-orang yang tidak hanya merusak kenyamanan lingkungan, tapi juga merusak generasi selanjutnya. Padahal mereka berpotensi menjadi manusia yang layak hidup sehat dan bermoral.
Munafik? Mungkin Tidak…
Sebagai penutup: ya, aku pernah berada sebentar di posisi mereka. Tapi justru itulah alasan utama aku tidak menyukainya dan berusaha selalu menjauh. Seiring bertambahnya usia, aku semakin memahami bahwa kita hidup di sebuah lingkungan, bukan di hutan belantara. Kita seharusnya bisa menghargai hak atas kenyamanan orang lain.