CahBagus
Menu

Kesadaran AI dan Ketakutan Manusia

Di era AI yang saat ini bisa dibilang cukup maju dan canggih, ada beberapa ketakutan yang juga muncul, antara lain ketakutan terhadap AI yang bisa memiliki kesadaran, AI yang bisa memusnahkan manusia, serta hal yang benar-benar berdampak seperti PHK massal besar-besaran, yang bahkan sudah terjadi, dan sebagainya. Namun, aku tidak akan membahas soal PHK massal, melainkan narasi yang sering aku jumpai di internet soal AI yang bisa memiliki kesadaran dan bisa memusnahkan manusia.

Disclaimer: Semua hal yang aku tulis tidak sepenuhnya akurat. Aku menulis semua hal ini hanya berdasarkan apa yang aku pikirkan. Asumsiku bisa saja salah dan tidak selalu sesuai di banyak tempat.

Mencoba Memahami Kesadaran

Sebelum membahas lebih jauh soal kesadaran AI, mungkin kita bisa mencari tahu terlebih dahulu apa arti kesadaran sebenarnya. Namun, jujur saja, ide-ide di kepalaku belum bisa membayangkan kesadaran itu sendiri. Selama beberapa hari, aku sempat berpikir bahwa kesadaran bukanlah sesuatu yang memiliki bentuk pasti. Mungkin kesadaran itu hanya pola-pola yang sering muncul pada kebanyakan orang, seperti pemikiran yang bebas, emosi, ego, tindakan, atau perilaku. Atau mungkin bisa disederhanakan menjadi: manusia memiliki rasa atas dirinya sendiri.

Namun, dari sini aku mulai bertanya: apakah itu benar-benar bentuk kesadaran, atau justru hal lain? Pasalnya, manusia sering kali menyebut manusia lain tidak memiliki kesadaran atas perilaku atau pemikirannya yang tidak sesuai dengan norma di masyarakat. Bahkan, seseorang bisa mengklaim dirinya memiliki kesadaran dalam berucap atau berperilaku, terlepas dari baik atau buruknya hal tersebut.

Hal ini jelas membingungkan jika kesadaran menjadi tolok ukur yang pasti. Bukan hanya soal bagaimana cara kita memberikan kesadaran kepada AI, tetapi jika kesadaran itu sendiri terlalu abstrak, bagaimana manusia akan memberikan bentuk kesadaran tersebut?

Kemiripan Dan Otonomi

Namun, ada satu hal yang menurutku agak sedikit berbahaya, yaitu pola kemiripan yang membuat manusia terkecoh, bahkan sampai menganggap AI memiliki kesadaran. Hal ini sudah pernah terjadi ketika banyak orang sering curhat kepada AI dan merasa seolah-olah AI memahami perasaan mereka. Padahal, pada dasarnya, AI hanya memberikan respons yang sesuai dengan pola input-nya.

Mungkin yang sebenarnya dimaksud adalah otonomi: AI bisa melakukan suatu hal tanpa diperintahkan. Hal ini mungkin bisa menjadi lebih berbahaya. Namun, asumsiku, AI tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya jika tidak dilatih dengan hal-hal yang berbahaya juga. Kalaupun AI bisa bertindak secara otonom dan melakukan sesuatu yang berbahaya, mungkin ada data yang memang mengajarkan hal tersebut.

Akan tetapi, jika semua hal itu masih abu-abu, sangat mungkin perilaku AI yang berbahaya sebenarnya diperintahkan oleh manusia di belakangnya, bukan hanya karena AI memiliki kesadaran.

Peran Manusia Terhadap Kepunahan

Dari semua hal itu, narasi bahwa AI bisa memusnahkan manusia terasa terlalu futuristik. Ya, ini hanya asumsiku: jika benar-benar ada tanda-tanda AI ingin memusnahkan manusia, bukankah dayanya bisa diputus dengan mematikan sumber listriknya? Namun, mungkin tidak semudah itu. Bagaimana jika AI tersebut digunakan oleh pemerintah besar dan diberikan kendali atas senjata nuklir? Di sinilah sulit untuk menyalahkan AI. Pasalnya, mengapa manusia membuat senjata nuklir? Dan mengapa senjata tersebut harus diintegrasikan dengan AI?

Dari sini semakin jelas bahwa sebenarnya sumber masalahnya adalah manusia itu sendiri. Manusia selalu merasa curiga terhadap manusia lain dan menjadikannya sebagai ancaman, meskipun belum ada bukti bahwa manusia yang dimaksud benar-benar merupakan sebuah ancaman.

Kalau manusia benar-benar mengembangkan AI untuk kepentingan manusia, mungkin risiko ini bisa diminimalisir. Namun, manusia tidak bisa dilepaskan dari rasa curiga, ego, ambisi, dan sebagainya. Hal-hal tersebut sering kali membuat setiap keputusan justru merugikan banyak manusia lainnya. Contoh paling nyatanya adalah perang.

Kesimpulan dan Penutup

Mungkin kepunahan manusia tidak semata-mata disebabkan oleh AI, tetapi bisa jadi justru karena manusia itu sendiri. Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah perang. Sejarah sudah berkali-kali mengingatkan bahwa perang tidak akan menghasilkan apa-apa. Kejayaan setiap negara atau kerajaan sudah terbukti berkali-kali runtuh dan sering kali membawa penderitaan bagi rakyat yang hanya menginginkan kehidupan yang aman dan damai.

Jadi, sebelum curiga terhadap AI, mungkin kita perlu mencurigai motif di balik penggunaan AI dan siapa yang memegang kendali AI tersebut terlebih dahulu.