Dari Kecanduan Game ke Eksplorasi Linux: Cerita Perubahan Kebiasaan
Mungkin ini cuma sekadar curhat 😁, bukan pembahasan yang terlalu mendalam. Tapi semoga setelah membaca ini, kamu bisa mengambil sedikit pelajaran hidup. Atau… mungkin juga tidak 😅
Kecanduan yang Brutal
Semua ini bermula beberapa tahun lalu, saat aku kecanduan game. Waktuku hampir sepenuhnya dihabiskan di depan layar ponsel. Menariknya, saat itu aku tidak merasa sedang kecanduan. Di masa itu, aku juga tidak punya banyak kegiatan lain. Tidak nongkrong, tidak produktif, dan lebih sering mengurung diri di kamar—keluar hanya kalau ada keperluan saja. “Ini buruk sih.”
Kalau ditarik ke belakang, semua ini berawal dari pandemi sekitar awal tahun 2020. Saat itu, semua orang dipaksa untuk tetap di rumah dan menjaga jarak. Padahal sebelumnya aku termasuk orang yang jarang di rumah—tiap hari nglayap, nongkrong, dan aktif di luar. Tapi pandemi mengubah semuanya. Hari-hari jadi terasa membosankan.
Dan dari situlah, aku mulai mengenal game… sampai akhirnya kecanduan.
Transisi dari Game Mobile ke PC
Sebenarnya aku sudah punya PC sederhana, tapi tidak cukup kuat untuk bermain game. Awalnya juga tidak ada niat untuk nge-game di sana.
Suatu waktu aku punya sedikit uang untuk upgrade PC. Bukan karena ingin bermain game, tapi karena tertarik dengan review komponen di YouTube 😅
Akhirnya aku beli:
- Intel Core i3 10400F
- VGA second RX 580
- Dan Komponen Lainnya…
Setelah dirakit, rasanya senang… tapi cuma sebentar. Karena tidak terasa perubahan yang signifikan 😅
Akhirnya aku coba install PUBG di Steam. Niatnya cuma tes.
Tapi malah keterusan.
Dan ya… kecanduannya pindah ke PC 😅
Namun fase ini tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian mulai bosan. Sampai akhirnya, secara tidak sengaja aku melihat turnamen Dota 2 di YouTube.
Dan rasa penasaran itu muncul lagi.
Dota 2: Level Kecanduan Berikutnya
Awalnya, Dota 2 terasa sangat sulit. Mekanismenya kompleks dan tidak ramah untuk pemula.
Tapi justru itu yang membuatku tertantang.
Apalagi melihat hero seperti Invoker, Tinker, Puck, dan Earth Spirit—itu benar-benar memicu ambisi untuk menguasainya 😅
Namun yang paling membuatku betah sebenarnya bukan cuma gamenya…
Melainkan komunitasnya.
Aku sempat menemukan satu server Discord yang isinya bapak-bapak semua yang main Dota 😅
Dan suasananya:
- Ramah
- Santai
- Minim drama
- Obrolannya seru
Di situlah aku merasa nyaman.
Sayangnya… kenyamanan itu justru membuatku semakin terhanyut.
Titik Balik yang Tidak Direncanakan
Suatu saat, satu per satu komponen PC mulai rusak:
- SSD mati
- RAM menyusul
- Dan akhirnya VGA juga ikut “pensiun” 😅
Di titik itu, aku berhenti total.
Bukan karena niat… tapi karena terpaksa.
Awalnya cukup frustrasi. Hari-hari hanya diisi dengan rebahan, tidur, dan makan. Begitu terus selama beberapa minggu. (Untungnya nggak sampai obesitas 😁)
Namun perlahan, aku mulai sadar.
Aku harus mencari sesuatu yang baru.
Belajar dari Rasa Ingin Tahu
Akhirnya aku mencoba solusi yang lebih murah.
Aku beli:
- Intel Pentium Gold G6400 (masih satu generasi)
Keuntungannya: ada iGPU, jadi tidak perlu VGA lagi.
Dan di situlah semuanya berubah.
Karena tidak bisa lagi bermain game berat, aku mulai “dipaksa” untuk memanfaatkan apa yang ada.
Awalnya masih pakai Windows 10… tapi lama-lama terasa membosankan.
Sampai akhirnya aku penasaran dengan Linux.
Distro pertama yang aku coba adalah Ubuntu.
Dan dari situlah perjalanan baru dimulai.
Aku mulai belajar:
- Terminal
- Struktur sistem Linux
- Cara kerja distro
Berbulan-bulan aku habiskan untuk eksplorasi.
Menariknya, setiap kali paham hal baru, rasanya mirip seperti saat menang game dulu.
Ada rasa puas.
Ada “reward”.
Dari Kecanduan Game ke Kecanduan Eksplorasi
Rasa penasaran itu terus berkembang.
Aku mulai bertanya:
“Apakah ada distro yang lebih ringan dari Ubuntu?”
Lalu aku mencoba berbagai distro, sampai akhirnya jatuh ke Xubuntu dengan XFCE.
Performanya ringan dan nyaman.
Tapi… rasa penasaran itu tidak berhenti.
“Ada yang lebih ringan lagi nggak?”
Dan di situlah aku mengenal Arch Linux.
Katanya sulit.
Katanya ribet.
Tapi justru itu yang membuatku tertarik.
Dan akhirnya aku benar-benar mencobanya.
Pengalaman pertama install Arch ternyata tidak seburuk yang dibayangkan—selama mengikuti dokumentasi dengan benar.
Yang menarik bukan hanya proses install-nya…
Tapi kebebasan untuk mengatur semuanya.
Mulai dari:
- Window manager
- Tampilan
- Workflow
Semuanya bisa di kustomisasi.
Dan itu membuatku semakin tenggelam dalam eksplorasi.
Penutup
Udah capek nulis 😅 jadi mungkin cukup sampai sini.
Tapi ada satu hal yang aku sadari:
Aku tidak benar-benar menghilangkan kecanduan.
Aku hanya mengalihkannya.
Dari game… ke eksplorasi dan rasa ingin tahu.
Efeknya masih sama:
- Sama-sama menyenangkan
- Sama-sama bikin lupa waktu
Tapi hasil akhirnya… sangat berbeda.