CahBagus
Menu

Refleksi Kasus Kekerasan: Saat Pelaku Dibela dan Keadilan Dipertanyakan

Ada kasus di mana seseorang mabuk-mabukan, lalu berbuat onar sampai melukai pengendara yang lewat. Namun, tulisan ini bukan membahas kejadian itu secara detail, melainkan menyoroti tanggapan lingkungan terhadap keadilan dan hukum.

Aku membagi pembahasan menjadi beberapa bagian penting:

Kronologi

Mungkin penjelasanku tidak sepenuhnya presisi, tetapi intinya cukup untuk memberikan gambaran bagi poin-poin selanjutnya.

Sekelompok orang sedang berkumpul—nongkrong di suatu tempat—sambil mabuk-mabukan. Lalu seorang pengendara motor lewat, namun sayangnya ia sedikit menggeber motornya saat melintas. Dua pelaku yang tersulut emosi kemudian mengejar dan mendorong pengendara itu hingga jatuh. Akibatnya cukup fatal, sampai korban harus dilarikan ke rumah sakit. Kurang lebih seperti itu kejadiannya.

Apakah Hukum Berlaku dengan Benar?

Menurut kesaksian orang sekitar, kasus ini telah dinaikkan ke kepolisian dan diproses secara hukum. Ini bagus. Sebab kalau hal seperti ini dibiarkan, akan muncul banyak pertanyaan: mengapa hukum yang sudah dibuat tidak bekerja? Bagaimana keadilan bisa ditegakkan jika sering kali lalai terhadap perkara semacam ini?

Menyalahkan Kepala Desa?

Sempat kudengar bahwa kepala desa dianggap tidak mampu membebaskan pelaku karena kasusnya sudah terlanjur dinaikkan. Mirisnya, hal itu menjadi bahan gunjingan dalam obrolan: “Kenapa kepala desa tidak mampu membebaskannya?”

Jujur, aku sedikit terkejut. Ternyata lingkungan lebih memilih mengkritik kepala desa atas ketidakmampuan membebaskan pelaku kekerasan, alih-alih mengkritik soal ketertiban. Pola pikir seperti inilah yang sebenarnya menjadi salah satu kekhawatiranku.

Seharusnya pelaku memang tidak boleh sebebas itu. Harus ada keadilan dan hukum yang sesuai dengan perbuatannya. Maka, siapa pun yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang, aku berharap ia benar-benar bisa melihat dari sisi kemanusiaan dan sisi hukum secara seimbang.

Jangan sampai ini terjadi: Ketika kegilaan menjadi norma, orang yang waras akan dianggap gila.

Kelompok yang Membela Kesalahan

Miris melihat bagaimana lingkungan membela pelaku, dengan banyak alasan yang justru menyalahkan korban. Hal itu mengingatkanku pada sebuah kutipan yang terasa relevan:

Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun tidak ada yang melakukannya. Kesalahan tetaplah kesalahan meskipun semua orang melakukannya. — St. Augustine

Kalau ditarik ke kronologi, pemicunya adalah pengendara yang menggeber motor. Apakah itu salah? Bisa jadi iya. Tapi apakah kesalahan itu harus dibalas dengan kekerasan? Itu tidak benar.

Secara logika, jika kita dirugikan seseorang, kita berhak melaporkannya ke pihak hukum untuk meminta keadilan. Namun, satu hal yang jangan dilupakan: mereka sedang dalam pengaruh alkohol, dan akal sehat bisa hilang karenanya.

Kekhawatiran

Ada beberapa hal yang membuatku khawatir terhadap lingkunganku, tetapi dua poin ini yang paling mengganggu.

1. Bukannya kapok, pelaku bisa lebih onar lagi

Belakangan aku melihat fenomena di mana seseorang justru bangga dengan kritikan atau sindiran buruk yang diterimanya. Secara tidak langsung, bukannya memperbaiki diri, ia malah membanggakan kesalahannya. Bisa jadi hukuman yang diterima pelaku bukan menjadi peringatan atau tamparan, melainkan lencana atau pencapaian baru.

Alasannya: faktor circle yang memang seperti itu, sering kali berbuat onar. Hal ini sudah pernah kubahas sebelumnya di Kebisingan, Onar, dan Ketidakadilan.

2. Pola pikir yang salah

Dari kritik terhadap kepala desa tadi, yang kukhawatirkan adalah pemimpin lain di masa mendatang. Saat kritikan bukan lagi soal kepatuhan pada hukum, melainkan demi membela nama baik pelaku yang jelas-jelas sudah salah.

Jika ini benar-benar terjadi, kemungkinan terburuknya: orang yang dirugikan oleh lingkungan semacam itu akan enggan melapor ke pihak hukum karena pemerintah desa kerap kali membela pelaku, bukan korban.

Menyikapi Hal Ini

Jujur, aku mencoba untuk tidak peduli. Tapi setiap kali kucoba, pikiran ini semakin sering muncul. Aku setuju jika pelaku harus dihukum karena itu yang paling adil. Namun di sisi lain, aku benar-benar dibuat geleng-geleng kepala oleh perkataan yang keluar dari mulut circle-nya: sesuatu yang jelas-jelas salah, tapi tetap dibela.

Mereka sering bicara soal keadilan, tetapi ketika masalah menimpa diri sendiri, orang lainlah yang selalu disalahkan.

Kesimpulan dan Penutup

Tidak ada hal pasti yang bisa kusimpulkan. Mungkin kita perlu sesekali berkaca agar tahu sedikit saja kesalahan dalam diri, sebelum menghakimi dan menyalahkan orang lain. Di era yang semakin gila ini, kesadaran dan keberanian mengakui kesalahan diri adalah hal paling langka yang bisa kutemui.