Entah kepikiran dari mana, tiba-tiba aku ingin mencoba Arch Linux 🤔—yang katanya sulit di-install. Jujur, aku nggak terlalu peduli dengan kata orang, tapi ya… kenapa nggak dicoba aja 😅
Oh ya, aku tidak memberikan tutorial di sini. Aku sendiri juga masih belajar, hanya bermodalkan baca dokumentasi. Jadi kalau tujuannya cari tutorial, mungkin bisa cari di YouTube—atau pakai cara paling praktis: archinstall.
Bingung Mau Cerita Apa
Sumpah, aku bingung mau cerita apa. Nggak ada kejadian yang benar-benar menarik, bahkan error pun belum ketemu sampai sekarang 🤔
Tapi memang, selama proses install aku harus benar-benar teliti membaca dan memahami setiap perintah. Salah sedikit (typo) saja kadang bisa bikin error yang membingungkan.
Setelah berhasil install pertama kali? Puas sih 😄
Dan dari situ, aku mulai mencoba memasang Hyprland—salah satu window manager yang menurutku keren 🥹
Mirip i3, tapi terasa lebih smooth dan modern 😁
Hal yang Paling Aku Suka
Yang paling aku suka dari Arch Linux adalah sifatnya yang minimalis. Aku bisa menginstall sistem sesuai kebutuhan, tanpa membawa banyak dependensi yang bahkan nggak pernah dipakai 🤔
Kalau ingat tulisanku sebelumnya soal Kebutuhan vs Keinginan, sebenarnya alasannya mirip—aku lebih suka sistem yang benar-benar sesuai kebutuhan.
Minimal, Ringan, dan Fleksibel
Aku sendiri tidak terlalu banyak melakukan kustomisasi. Hampir semuanya masih default.
Tapi yang menarik, kebebasan untuk menyesuaikan itu benar-benar luas—tinggal mau dipakai atau nggak saja.
Aku pribadi memilih prinsip: yang penting bisa dipakai.
Bahkan Waybar—yang biasanya jadi kombinasi bagus—aku tidak install. Otakku langsung mikir:
“Buat apa install kalau nggak dipakai?”
Soal performa, ini yang paling terasa. Setelah booting, penggunaan RAM sekitar ±800 MB (itu masih di TTY 😅).
Begitu masuk Hyprland, naik sedikit jadi sekitar 900 MB–1 GB—dan itu masih tergolong ringan banget.
Aplikasi yang Terpasang
Nggak banyak, cuma yang benar-benar dipakai:
- Neovim — teks editor utama (untuk koding)
- Obsidian — second brain, untuk catat mencatat
- Firefox — browser favorit 😅
Alasannya sama seperti sebelumnya: percuma install banyak aplikasi kalau akhirnya nggak dipakai 😅
Dan tiga itu saja sudah cukup untuk kebutuhan harianku.
Kesimpulan
Jujur, nggak ada momen yang terlalu “wah” selama pakai Arch Linux 🤔
Tapi justru di situ menariknya—semuanya berjalan lancar.
Kalau dibilang sulit, sebenarnya nggak juga. Kuncinya cuma satu: rajin baca dokumentasi.
Selama sekitar satu bulan pemakaian, aku bahkan belum menemui error berarti.
Tips sederhana: kalau kesulitan memahami dokumentasi, tanya AI saja 😅
Penjelasannya biasanya lebih mudah dipahami—walaupun kadang bisa ngaco juga.